Studi: Orang Yang Berbicara Menggunakan Bahasa Inggris Lebih Mudah Terpapar Virus Corona

GridHEALTH.id -Kasus Covid-19dunia kini telah mencapai lebih dari 30 juta kasus.

Pandemi Covid-19 ini seakan menyerang siapa saja di belahan bumi manapun, bahkan dari etnis mana saja.

Baca Juga: Hasil Riset Ilmiah Terbaru Masker Scuba; Tidak Dapat Menyaring Droplet yang Keluar Saat Berbicara

Namun baru-baru ini, sebuah penelitian dari RUDN University, Moscow, Russia menunjukan bahwa orang yang berbicara bahasa Inggris dinilai lebih mudah terpapar virus corona.

Penelitian baru menunjukkan bahwa penutur bahasa Inggris mengeluarkan lebih banyak droplets (tetesan) ke udara ketika mereka berbicara, yang dapat membuat mereka lebih mungkin menyebarkan Covid-19.

Baca Juga: Hari Kelima PSBB Ketat, Pemprov DKI Kantongi Rp 2,4 Miliar Hasil Denda Administrasi Pelanggar Protokol Kesehatan

Melihat hal tersebut, peneliti menilai betapa lucunya suatu bahasa dapat berkontribusi pada tingkat penyakit yang berbeda.

Semuanya bersumber pada sesuatu yang disebut konsonan aspirasi, suara yang kita buat yang menyemprotkan lebih banyak tetesan air liur ke udara.

Berawal dari jumlah turis Jepang jauh lebih banyak daripada turis Amerika di China Selatan, namun orang Amerika menyumbang 70 kasus SARS-CoV-1 dan Jepang tidak memiliki kasus sama sekali.

Pada saat itu, salah satu penjelasan para ilmuwan berkaitan dengan bahasa.

Baca Juga: Pemerintah Dikritik Pentingkan Ekonomi Ketimbang Kesehatan, Menko PMK; Ekonomi Justru Bikin Sehat

Karena staf toko China umumnya multibahasa, mereka biasanya berbicara kepada pembeli AS dalam bahasa Inggris saat berbicara dengan turis Jepang dalam bahasa Jepang.

Dan itu penting karena bahasa Inggris penuh dengan konsonan aspirasi sementara bahasa Jepang memiliki sedikit.

Meskipun bahasa Jepang memiliki sedikit konsonan aspirasi yang membuat penuturnya mengeluarkan sedikit ludah saat berbicara, bahasa Inggris memiliki tiga di antaranya.

Secara khusus, huruf konsonan p, t, dan k digunakan dalam bahasa Inggris dapat membuat suara tersebut melemparkan banyak tetesan kecil dari saluran pernapasan pembicara ke udara, menciptakan awan ludah.

Jika orang tersebut membawa virus, udara sekarang penuh dengan partikel virus.

Baca Juga: Warga India Tak Lagi Takut Covid-19, Kasus Positif Covid-19 Sudah Capai 5,2 Juta

Menurut ahli bahasa dari RUDN University, banyaknya kasus Covid-19 di suatu negara mungkin terkait dengan keberadaan konsonan aspirasi dalam bahasa komunikasi utamanya.

Data ini dapat membantu membuat mannequin yang lebih akurat untuk menggambarkan penyebaran Covid-19.

Studi tersebut mengamati knowledge dari 26 negara dengan lebih dari 1000 kasus Covid-19 pada 23 Maret 2020.

Kendati belum sepenuhnya benar, namun sta tersebut mencakup sejumlah besar merupakan negara dengan banyak pengguna bahasa Inggris. (*)

#hadapicorona

Video Pilihan
PROMOTED CONTENT