Truedy Duality Memukau Lewat Single Debut Yang Melebur Estetika Mozart Dan Punk

Truedy Duality.Bicara tembang terbaru Truedy Duality, dari judulnya saja sudah mengundang rasa penasaran: ‘A Mad Deus Most Art’. Kemudian, jika ada kemiripan fonem dengan karya sang komposer besar Wolfgang Amadeus Mozart, memang terinspirasi dari situ. Menurut pandangan ganda campuran Truedy Duality, komposer klasik legendaris tersebut lewat ekspresi musikalnya yang vulgar, terpancar sinar semangat punk rock. Hal itu terasa klop dengan pendekatan artistik di Truedy Duality. Maka itu mereka berdua memberi judul lagunya dan menerbitkan video lirik berkonstruksi bunyi yang senada: “A Mad Deus Most Art”.

Baca juga: Ash-Shur Mengusung “Experimental Gypsy Rock”, Penasaran? Dengarkan Debut Single-nya!

Truedy Duality merupakan proyek experimental rock berformat duo antara pianis dan dramer. Proyek ini dibentuk dan dipertemukan di Bali di bawah naungan Pohon Tua Creatorium pada tahun 2020.

Truedy Duality diambil dari nama vokalisnya sendiri, yaitu Truedy dan Duality berarti Dualitas (KBBI: menjadi rangkap dua atau memiliki sifat rangkap dua). Saat ini mereka sedang menggarap mini album alias EP yang diproduseri oleh Pohon Tua Creatorium. Lirik lagu dalam mini album ini lebih mengarah kepada kritik sosial, dan pengalaman private yang ditulis sendiri oleh Truedy. Musik dalam proyek ini banyak terinspirasi dari The Dresden Dolls (proyek duo Amanda Palmer dan Brian Viglione), Fiona Apple, Tori Amos, Kate Bush, dan Alanis Morissette.

Truedy Sabatini atau sering disapa Truedy menjabat sebagai pemain kibord sekaligus vokalis. Memulai karier musiknya dengan mengeluarkan single perdana di tahun 2018. Perempuan kelahiran Malang ini menjadi leader dalam proyek ini.

Sedangkan Norbertus Rizki alias Kiki merupakan seorang desainer yang aktif juga dalam bermain musik. Pernah bergabung di beberapa band, seperti Garden Grove, Zat Kimia, dan proyek terakhirnya yaitu Sendawa.

Truedy Duality duo experimental rock.Secara individual, Truedy bisa dibilang lumayan masyhur di kancah musik muda lokal dan nasional. Sebagai solois, doi sudah merilis beberapa karya yang mendapat apresiasi baik dari publik. Demikian pula Kiki, cukup lama lintang pukang di scene setempat serta pamornya pernah cukup melambung di band yang kini-bubar, Zat Kimia. Namun kolaborasi dengan Pohon Tua bagi keduanya malah cukup bersejarah. Bakat masing-masing yang sudah bernas, ketajamannya menjadi makin terarah dan kian trengginas. Bukan malah tumpang tindih, tapi saling menguatkan. Batman ditemani Robin. Arad didampingi Maya. Billie Eilish – FINNEAS, lanjutkan sampai tua, hehe.

Truedy yang memiliki sisi liar namun kerap sedikit terkungkung dan Kiki yang sejatinya pemberontak tapi sering harus agak menahan diri, di zona kreasi Pohon Tua Creatorium dihadiahi visa bebas merdeka. Silakan salto-koprol-kayang dalam berkarya. Bukan PSBB (Pembatasan Seni Berskala Besar) tapi PKM (Pembatasan Kesenian Mandiri). Keren.

Truedy Duality tercengang-girang sekaligus tertantang. “Kemampuan Mas Dang membuat kami lebih yakin dan ekspresif saat menulis lagu dan saat rekaman di studio, untuk menantang kemampuan kami lebih jauh lagi”. Bayangkan Tori Amos bersulang koktail negroni dengan Amanda Palmer kemudian Karen O ikut mencicipi sedikit. Baroque pop tenang mendebarkan melaju menuju artwork punk yang jalang namun tetap estetikal.

Baca juga: Jawara Pop-Punk Stand Atlantic Rilis ‘Pink Elephant’, Album Yang Paling Berani

“Ibaratnya semacam Moksartham Jagadhita: segala dharma mencekam Mozart bertujuan untuk mencapai kebahagiaan art punk dan kerohanian Dresden Dolls” -Rudolf Dethu

> Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi