Tulisan Arab Di Baju Transparan Agnez Mo, Menghina Islam?

Saya sedang beres-beres rumah ketika anak saya yang sedang nonton acara ulang tahun Indosiar di tivi nyeletuk: “Mamah, Agnes Monica sekarang masuk ISIS. Tuh liat pada pake baju item-merchandise, terus di bajunya ada tulisan arabnya….”

Saya gak ‘ngeh dengan acaranya. Tapi sempat kaget juga dengar celetukan anak saya yang masih duduk di bangku SMP itu. Dari mana dia bisa berpikir bahwa kalau orang mengenakan baju hitam bertuliskan bahasa arab identik dengan ISIS? Wah, ini harus diluruskan.

Besoknya, rekan-rekan di kantor juga ramai berdebat membahas baju si Agnez. Tapi bukan tentang Agnez Mo masuk ISIS, melainkan si Agnez yang telah melecehkan Islam karena tulisan arab di baju transparannya.

Biasanya saya gak begitu tertarik dengan obrolan semacam itu. Lagian, kantor tuh tempatnya kerja, bukan tempatnya bergosip gak ada juntrungannya. Husss… Ayo, sana kerja kerja. Cieeee…! keren kan saya… Hehe.

“Huh, susah kalau ngomong sama orang yang jarang buka twitter. Gak trending matter…”

Eh, sembarangan ya… belum tau kalau saya ini penulis di Kompasiana.

Tapi, diam-diam saya penasaran juga. Sewaktu ruangan lagi sepi, iseng saya shopping videonya si Agnez Mo di acara tivi semalem.

Weeess… beneerrr, Om dan Tante. Di baju Agnes Mo yang tampil enerjik seperti biasanya itu tertulis “Al Muttahidah” dalam huruf arab. Ini rupanya pangkal celetukan anak saya semalem dan penyebab debat teman-teman di kantor tadi.

Muttahidah kalau diindonesiakan artinya “Persatuan”. Digunakannya kata tersebut kemungkinan besar karena Agnez Mo sekarang terpilih sebagai duta perdamaian. Dan kata “Al Muttahidah” sendiri merupakan bagian dari kampanyenya.

Rupanya debat apakah Agnez Mo melecehkan Islam atau tidak jadi berkepanjangan. Teman-teman di kantor terbelah dua antara yang mengatakan itu pelecehan dan yang bukan.

Kodrat saya sebagai ibu-ibu yang doyan rumpi pun muncul. Diam-diam saya nguping perdebatan mereka. Hehe… Lumayan, siapa tahu bisa untuk bahan artikel di kompasiana. Walaupun artikel saya jarang ha’el. Ups!

Mbak Marni yang paling ngotot: “Itu jelas pelecehan! Bahasa Arab itu paling tinggi derajatnya karena itu bahasa yang dipake malaikat Jibril waktu nyampein wahyu. Kok malah dipake joget-joget mempertontonkan aurat…!”

Sedang Si Nisa yang mewakili pendapat bahwa itu bukan pelecehan, gak kalah ngototnya: “Mbak Marni, wahyu itu kan sudah diabadikan dalam Al-Qur’an. Dan tulisan itu bukan berasal dari Al-Qur’an, Cuma bahasa arab thok. Kan orang arab juga gak semua Islam.”

Debat semakin memanas. Akhirnya saya pun terpaksa nengahin layaknya Najwa shihab di “Mata Najwa”. Siapa tahu saya juga nanti bisa bikin acara “Mata Laura”.

Tapi keduanya sudah di mabuk kebenaran. Masing-masing keukeuh dengan pendapatnya. Kewalahan deh saya nengahinnya.

Baik Mbak Marni maupun Nisa menunjukan pendukung argumennya. Mbak Marni melalui ipadnya menunjukan tafsir Ibnu Katsir tentang Surat Yusuf ayat 2. Nisa malah dengan santai berkata: “Mbak, tak semua bahasa arab itu mulia. Bukankah Abu Lahab juga orang arab, berbahasa arab, tapi namanya diabadikan di Al-Qur’an sebagai orang yang celaka…”

“Lagian, Mbak, ngapain kita harus meributkan ini. Orang arabnya juga gak meributkan perempuan arab yang pake baju auratnya terbuka seperti ini …” kata Nisa tak kalah menunjukkan sebuah foto dari ipadnya.

Ya, ngapain juga kita harus meributkan? Gagal deh saya jadi Najwa Shihab.

VIDEO PILIHAN